Home → Semua Post
Cerita Dewasa |Ngentot Anak SPG Ketika memek Mentul
Cerita Sex Bergambar : Memperkosa SPG Mobil Bening yang Sombong - Kudekati telinga Vera, dia yang sudah ketakutan padaku, dia berusaha menjauhkan kepalanya, mungkin dikiranya aku mau menggigit telinganya. Kubisikkan sesuatu di telinga Vera, “Vera, gimana kalau kita ganti alatnya, sekarang pakai ikat pinggang saja ya”, bisikku sambil menyeringai sadis.Vera menunjukkan ekspresi terkejut setengah tidak percaya bahwa dia akan menerima siksaan yang lebih hebat. “Ampun.. lepaskan saya..” ibanya meskipun tahu aku tidak akan melepaskannya.
Kubuka ikat pinggangku yang terbuat dari kulit, kulilitkan sebagian pada telapak tanganku, Vera melirikku dengan ketakutan yang amat sangat, nafasnya tersenggal-senggal meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengaturnya. Mungkin dengan mengatur napas dia berharap sabetan ikat pinggangku tidak akan terlalu sakit. Kuangkat tinggi tanganku dan kuayunkan dengan keras, Vera memejamkan matanya, saat ikat pinggangku mendarat di pahanya terdengar meja yang ditiduri Vera agak berderit karena tubuh Vera secara spontan bergetar keras menahan sakit. “Ahh.. ampun.. ampun.. hahh.. hahh..” Vera berkata tersendat-sendat. Kali ini bukan hanya garis merah yang tampak, tetapi semacam jalur merah tercetak di paha Vera.
“Ceplass.. Ceplass..” sabetan ikat pinggangku semakin liar menghujani tubuh Vera. Vera sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya menggeleng ke kiri ke kanan menahan penderitaan yang kuberikan. Puas dari samping, “Bagaimana kalau pukulan yang mengarah langsung ke liang kewanitaannya?” pikirku. Lalu aku mulai menyobek CD-nya dan minta kepada dua temanku untuk melepaskan ikatan kaki Vera dan mengikatnya kembali pada posisi menekuk ke atas dan mengangkang, sehingga liang kewanitaannya terbuka lebar. Vera berusaha meronta dan menutup liang kewanitaannya dengan kakinya, namun ikatan kami cukup erat sehingga kedua kakinya tidak bisa mengatup. Persis menghadap liang kewanitaannya, aku mengelus-elusnya sambil tersenyum sinis. Vera mengangkat kepalanya dan menatapku dengan pandangan nanar.
Aku mulai menjauh, ikat pinggang mulai kuputar-putar, lalu.., “Ceplass..” ikat pinggang itu mendarat dengan tepat di bibir liang kewanitaan Vera. Kali ini Vera meronta-ronta dengan sangat dan cukup lama, tampaknya dia sangat kesakitan, kepalanya ditengadahkan ke atas sembari mengguncang-guncangkan pantatnya di atas meja. Aku berjalan ke sampingnya, “Lagi?” tanyaku seolah tak menghiraukan penderitaannya. Vera tidak mengatakan apa-apa, kelihatannya dia sudah pasrah. Aku tersenyum penuh kemenangan, kusentuh bibir liang kewanitaannya yang tentunya masih pedih, Vera menggelinjang, tak peduli kugesek-gesekan jariku di liang senggamanya, tubuh Vera terus menggelinjang. “Sakitt.. sakitt..” gumamnya lirih.
Seolah tak peduli, kembali aku mengambil dua jepitan, dan kujepit di kedua bibir liang kewanitaan yang memerah itu. Vera menatapku dengan pandangan tak percaya akan kesadisanku. “Oke”, kataku, “Tidak ada lagi pukulan..”, Vera diam saja tanpa ekspresi, “..tapi sekarang waktunya bermain lilin”, lanjutku sambil menyunggingkan senyum. Kali ini Vera menolehkan wajahnya yang layu, berkeringat dan basah karena air matanya. Bisa kubaca dalam pikirannya, “Oh.. apa lagi yang akan diperbuatnya pada tubuhku.. malangnya nasibku..”
Memang di kamar Aguk ada beberapa lilin untuk jaga-jaga jika lampu mati, ada yang kecil dan ada juga yang besar supaya awet. Kuambil Zippo-ku, kunyalakan satu lilin yang kecil. Lidah api menari berputar-putar melelehkan batang lilin yang menahannya. Menembus lidah api itu, kulihat pandangan Vera yang berharap aku hanya bercanda. Kujawab dengan pandangan juga yang menyatakan bahwa aku serius. Segera lilin yang kupegang kumiringkan di atas payudara Vera. Kulihat ekspresi Vera yang memandang lekat batang lilin yang terkena nyala api, pandangannya seolah berharap agar lilin tersebut tidak meleleh atau apinya tiba-tiba mati. Tapi tentu saja itu tidak terjadi, yang terjadi adalah tetesan pertama jatuh dan menetes di atas puting susu Vera sebelah kanan.
“Hhh..” Vera mendesah, punggungnya terlihat bergerak ke atas menahan panas lilin yang meleleh. Tetesan demi tetesan bergerak jatuh, dan Vera terlihat semakin kesakitan karena tetesan tersebut jatuh di tempat bekas pecut dan sabetan ikat pinggangku tadi. Tiba-tiba teman-temanku ikut bergabung, mereka semua memegang lilin bahkan tidak hanya satu tapi tiga atau empat sekaligus. Mereka dengan gembira meneteskan ke bagian-bagian sensitif Vera, seperti buah dada, pusar, sekitar liang kewanitaan dan paha. Kali ini Vera seperti ular kepanasan, dia meliuk-liukkan tubuhnya menahan panas tetesan lilin.
Seperti biasa, setelah puas pada bagian tubuh Vera, aku pun mengambil sebuah lilin dengan diameter yang besar dan menyalakannya. Setelah menunggu agak lama supaya lelehan lilin cukup banyak di atas lilin itu, aku kembali mengelus-elus liang kewanitaan Vera. Vera langsung berkata, “Tidakk.. jangan.. jangan Mas..”, aku pun tersenyum penuh nafsu mendengar nada yang memelas itu. Tapi tetap saja lilin yang besar itu kumiringkan di atas liang kewanitaan Vera, Vera berusaha mengelak dengan menggeser pantatnya, “Pintar juga dia”, pikirku, tapi karena lelehan lilin ini masih banyak, dengan leluasa aku “menaburkan” tetesan-tetesannya ke liang kewanitaannya. Tak ayal bagaikan lahar panas tetesan tersebut mengalir ke liang kewanitaan Vera dan mungkin ke dalamnya.
“Errgghh..” gumam Vera, dia langsung menggoyang-goyangkan pantatnya dan menengadahkan kepalanya menahan panas dan sakit, dengan mulutnya yang menggigit rapat dan matanya terpejam erat. Kemudian kucoba untuk memasukkan sebuah lilin kecil ke anusnya, sulit sekali karena anusnya begitu rapat, aku memasukkan jariku terlebih dahulu dan menggesek-geseknya agar anusnya membesar. “Aduh.. aduh..” ucap Vera, tapi aku tidak peduli, setelah anusnya membesar mulai kutancapkan sebuah lilin di anusnya. Dan ide cemerlangku muncul lagi, kunyalakan lilin yang menancap itu dan setelah cukup lama, kutiup apinya dan kubalik, jadi yang menancap adalah bagian yang barusan menyala. “Jess..” bunyi panas lilin bercampur dengan cairan yang keluar dari anus Vera. Tentu saja Vera menggeliat kesakitan, pantatnya dibentur-benturkannya ke meja seakan ingin melepaskan lilin yang menancap di anusnya. Aku tersenyum senang sambil kumasuk-keluarkan lilin tadi di anus Vera.
Karena sudah puas menyiksa Vera, aku kasih kesempatan kepada teman-temanku untuk menyetubuhinya. Teman-temanku begitu gembira, mereka langsung beraksi, sementara aku melihat pertunjukkan ini dengan kepuasan total. Mereka melepas ikatan Vera yang sudah tidak berdaya itu, lalu tubuhnya dibalik dan pantatnya ditarik ke atas sehingga dalam posisi menungging. Aku melihat Vera diam saja, mungkin dia sudah capai dan pasrah serta tidak punya harapan hidup lagi. Wajahnya yang cantik terlihat sangat lesu dan seolah-olah siap diperlakukan apa saja. Dodot dengan tubuhnya yang besar mulai membuka celana dan melakukan penetrasi, langsung sodomi. Vera membelalak tak menyangka bahwa ada benda sebesar itu yang harus masuk ke anusnya. Belum selesai dia “menikmati” penderitaan karena ulah Dodot, Aguk langsung menyelinap ke bawah tubuh Vera dan berusaha memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Vera.

Vera melolong kesakitan karena anus dan liang kewanitaannya yang sudah lecet dan perih terkena sabetan ikat pinggang dan tetesan lilin, masih harus bergesekan dengan batang kemaluan teman-temanku. Tubuhnya terguncang ke depan berulang-ulang setiap kali Dodot dan Aguk menghunjamkan batang kemaluannya. Payudaranya berguncang keras persis di atas wajah Aguk yang dengan penuh nafsu meremas sekuatnya. Masih tersiksa dengan keadaan begitu, Bimo mengeluarkan kepunyaannya dan minta dikaraoke oleh Vera. Rintihan Vera menjadi tersendat-sendat karena tersedak dan batuk, Bimo bukannya kasihan malahan dia semakin terangsang sehingga dia menghunjamkan batang kemaluannya ke mulut dan tenggorokan Vera berulang-ulang.
Aku tersenyum saja melihat kelakuan teman-temanku yang brutal, lalu kudekati Vera sambil berkata, “Vera.. punggungmu masih mulus lho.. aku cambuk ya..” Karena tidak mungkin menggunakan pecut dan ikat pinggang sebab bisa mengenai Aguk yang berada di bawah tubuh Vera, maka aku menggunakan rotan yang tadi sebagai pegangan untuk pecut, rotan ini ujungnya memecah sehingga sangat cocok untuk menimbulkan rasa sakit.
Segera kuraih rotan itu dan kupukulkan berulang-ulang ke punggung Vera. Tubuh Vera terlihat menggelinjang dan menggeliat seiring dengan hujaman-hujaman yang diberikan oleh Dodot, Aguk dan Bimo serta siksaan cambukan rotan dariku. Dodot yang melihat punggung Vera terkena pukulan rotanku sangat terangsang dan segera memuntahkan maninya ke liang dubur Vera, lalu dia pun mencabut batang kemaluannya. Karena pantatnya kosong, atau tidak ada orang, aku pun dengan leluasa memukul pantatnya dengan rotan. Kulihat Vera sangat menderita, pantat yang baru saja dimasuki paksa oleh Dodot masih harus menerima siksaan rotanku.
Giliran Bimo yang ejakulasi, maninya langsung menyemprot ke tenggorokan Vera, membuatnya menjadi sulit bernafas dan seperti mau muntah. Melihat begitu semakin keras kupukulkan rotan ke pantatnya, bahkan ke belahan pantatnya. Tiba-tiba Vera lunglai, kelihatannya dia tak tahan lagi menerima siksaan kami, dia pingsan. Aguk yang belum selesai masih terus melakukan aksinya, sehingga tubuh Vera yang pingsan itu terguncang-guncang ke sana ke mari, akhirnya Aguk pun mencapai puncaknya dan menyemprotkan air maninya di dalam liang kewanitaan Vera yang masih pingsan. Aku sendiri sudah merasa puas dengan balas dendamku ini. Kami berempat tertawa dan puas.
Kami lalu membawa tubuh Vera untuk di”buang”, sebetulnya kami ingin menyimpannya untuk kenikmatan sehari-hari tetapi terlalu beresiko. Akhirnya tubuh Vera kami lempar di depan plaza tempat dia bekerja. Aku tersenyum puas karena sudah memberi pelajaran kepada SPG yang sombong itu, tapi dalam hati aku merasa ketagihan untuk menyiksa SPG yang lain, kusampaikan ini ke teman-temanku dan mereka semuanya setuju untuk suatu waktu menculik dan menyiksa SPG yang lain.
TAMAT
Cerita Dewasa |Ngentot Anak SPG Ketika memek Mentul
Cerita
Sex Bergambar : Memperkosa SPG Mobil Bening yang Sombong - Kudekati
telinga Vera, dia yang sudah ketakutan padaku, dia berusaha menjauhkan
kepalanya, mungkin dikiranya aku mau menggigit telinganya. Kubisikkan
sesuatu di telinga Vera, “Vera, gimana kalau kita ganti alatnya,
sekarang pakai ikat pinggang saja ya”, bisikku sambil menyeringai
sadis.Vera menunjukkan ekspresi terkejut setengah tidak percaya bahwa
dia akan menerima siksaan yang lebih hebat. “Ampun.. lepaskan saya..”
ibanya meskipun tahu aku tidak akan melepaskannya.
Kubuka
ikat pinggangku yang terbuat dari kulit, kulilitkan sebagian pada
telapak tanganku, Vera melirikku dengan ketakutan yang amat sangat,
nafasnya tersenggal-senggal meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga
untuk mengaturnya. Mungkin dengan mengatur napas dia berharap sabetan
ikat pinggangku tidak akan terlalu sakit. Kuangkat tinggi tanganku dan
kuayunkan dengan keras, Vera memejamkan matanya, saat ikat pinggangku
mendarat di pahanya terdengar meja yang ditiduri Vera agak berderit
karena tubuh Vera secara spontan bergetar keras menahan sakit. “Ahh..
ampun.. ampun.. hahh.. hahh..” Vera berkata tersendat-sendat. Kali ini
bukan hanya garis merah yang tampak, tetapi semacam jalur merah tercetak
di paha Vera.
“Ceplass..
Ceplass..” sabetan ikat pinggangku semakin liar menghujani tubuh Vera.
Vera sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya menggeleng ke kiri
ke kanan menahan penderitaan yang kuberikan. Puas dari samping,
“Bagaimana kalau pukulan yang mengarah langsung ke liang kewanitaannya?”
pikirku. Lalu aku mulai menyobek CD-nya dan minta kepada dua temanku
untuk melepaskan ikatan kaki Vera dan mengikatnya kembali pada posisi
menekuk ke atas dan mengangkang, sehingga liang kewanitaannya terbuka
lebar. Vera berusaha meronta dan menutup liang kewanitaannya dengan
kakinya, namun ikatan kami cukup erat sehingga kedua kakinya tidak bisa
mengatup. Persis menghadap liang kewanitaannya, aku mengelus-elusnya
sambil tersenyum sinis. Vera mengangkat kepalanya dan menatapku dengan
pandangan nanar.
Aku
mulai menjauh, ikat pinggang mulai kuputar-putar, lalu.., “Ceplass..”
ikat pinggang itu mendarat dengan tepat di bibir liang kewanitaan Vera.
Kali ini Vera meronta-ronta dengan sangat dan cukup lama, tampaknya dia
sangat kesakitan, kepalanya ditengadahkan ke atas sembari
mengguncang-guncangkan pantatnya di atas meja. Aku berjalan ke
sampingnya, “Lagi?” tanyaku seolah tak menghiraukan penderitaannya. Vera
tidak mengatakan apa-apa, kelihatannya dia sudah pasrah. Aku tersenyum
penuh kemenangan, kusentuh bibir liang kewanitaannya yang tentunya masih
pedih, Vera menggelinjang, tak peduli kugesek-gesekan jariku di liang
senggamanya, tubuh Vera terus menggelinjang. “Sakitt.. sakitt..”
gumamnya lirih.
Seolah
tak peduli, kembali aku mengambil dua jepitan, dan kujepit di kedua
bibir liang kewanitaan yang memerah itu. Vera menatapku dengan pandangan
tak percaya akan kesadisanku. “Oke”, kataku, “Tidak ada lagi
pukulan..”, Vera diam saja tanpa ekspresi, “..tapi sekarang waktunya
bermain lilin”, lanjutku sambil menyunggingkan senyum. Kali ini Vera
menolehkan wajahnya yang layu, berkeringat dan basah karena air matanya.
Bisa kubaca dalam pikirannya, “Oh.. apa lagi yang akan diperbuatnya
pada tubuhku.. malangnya nasibku..”
Memang
di kamar Aguk ada beberapa lilin untuk jaga-jaga jika lampu mati, ada
yang kecil dan ada juga yang besar supaya awet. Kuambil Zippo-ku,
kunyalakan satu lilin yang kecil. Lidah api menari berputar-putar
melelehkan batang lilin yang menahannya. Menembus lidah api itu, kulihat
pandangan Vera yang berharap aku hanya bercanda. Kujawab dengan
pandangan juga yang menyatakan bahwa aku serius. Segera lilin yang
kupegang kumiringkan di atas payudara Vera. Kulihat ekspresi Vera yang
memandang lekat batang lilin yang terkena nyala api, pandangannya seolah
berharap agar lilin tersebut tidak meleleh atau apinya tiba-tiba mati.
Tapi tentu saja itu tidak terjadi, yang terjadi adalah tetesan pertama
jatuh dan menetes di atas puting susu Vera sebelah kanan.
“Hhh..”
Vera mendesah, punggungnya terlihat bergerak ke atas menahan panas
lilin yang meleleh. Tetesan demi tetesan bergerak jatuh, dan Vera
terlihat semakin kesakitan karena tetesan tersebut jatuh di tempat bekas
pecut dan sabetan ikat pinggangku tadi. Tiba-tiba teman-temanku ikut
bergabung, mereka semua memegang lilin bahkan tidak hanya satu tapi tiga
atau empat sekaligus. Mereka dengan gembira meneteskan ke bagian-bagian
sensitif Vera, seperti buah dada, pusar, sekitar liang kewanitaan dan
paha. Kali ini Vera seperti ular kepanasan, dia meliuk-liukkan tubuhnya
menahan panas tetesan lilin.
Seperti
biasa, setelah puas pada bagian tubuh Vera, aku pun mengambil sebuah
lilin dengan diameter yang besar dan menyalakannya. Setelah menunggu
agak lama supaya lelehan lilin cukup banyak di atas lilin itu, aku
kembali mengelus-elus liang kewanitaan Vera. Vera langsung berkata,
“Tidakk.. jangan.. jangan Mas..”, aku pun tersenyum penuh nafsu
mendengar nada yang memelas itu. Tapi tetap saja lilin yang besar itu
kumiringkan di atas liang kewanitaan Vera, Vera berusaha mengelak dengan
menggeser pantatnya, “Pintar juga dia”, pikirku, tapi karena lelehan
lilin ini masih banyak, dengan leluasa aku “menaburkan”
tetesan-tetesannya ke liang kewanitaannya. Tak ayal bagaikan lahar panas
tetesan tersebut mengalir ke liang kewanitaan Vera dan mungkin ke
dalamnya.
“Errgghh..”
gumam Vera, dia langsung menggoyang-goyangkan pantatnya dan
menengadahkan kepalanya menahan panas dan sakit, dengan mulutnya yang
menggigit rapat dan matanya terpejam erat. Kemudian kucoba untuk
memasukkan sebuah lilin kecil ke anusnya, sulit sekali karena anusnya
begitu rapat, aku memasukkan jariku terlebih dahulu dan
menggesek-geseknya agar anusnya membesar. “Aduh.. aduh..” ucap Vera,
tapi aku tidak peduli, setelah anusnya membesar mulai kutancapkan sebuah
lilin di anusnya. Dan ide cemerlangku muncul lagi, kunyalakan lilin
yang menancap itu dan setelah cukup lama, kutiup apinya dan kubalik,
jadi yang menancap adalah bagian yang barusan menyala. “Jess..” bunyi
panas lilin bercampur dengan cairan yang keluar dari anus Vera. Tentu
saja Vera menggeliat kesakitan, pantatnya dibentur-benturkannya ke meja
seakan ingin melepaskan lilin yang menancap di anusnya. Aku tersenyum
senang sambil kumasuk-keluarkan lilin tadi di anus Vera.
Karena
sudah puas menyiksa Vera, aku kasih kesempatan kepada teman-temanku
untuk menyetubuhinya. Teman-temanku begitu gembira, mereka langsung
beraksi, sementara aku melihat pertunjukkan ini dengan kepuasan total.
Mereka melepas ikatan Vera yang sudah tidak berdaya itu, lalu tubuhnya
dibalik dan pantatnya ditarik ke atas sehingga dalam posisi menungging.
Aku melihat Vera diam saja, mungkin dia sudah capai dan pasrah serta
tidak punya harapan hidup lagi. Wajahnya yang cantik terlihat sangat
lesu dan seolah-olah siap diperlakukan apa saja. Dodot dengan tubuhnya
yang besar mulai membuka celana dan melakukan penetrasi, langsung
sodomi. Vera membelalak tak menyangka bahwa ada benda sebesar itu yang
harus masuk ke anusnya. Belum selesai dia “menikmati” penderitaan karena
ulah Dodot, Aguk langsung menyelinap ke bawah tubuh Vera dan berusaha
memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Vera.

Vera
melolong kesakitan karena anus dan liang kewanitaannya yang sudah lecet
dan perih terkena sabetan ikat pinggang dan tetesan lilin, masih harus
bergesekan dengan batang kemaluan teman-temanku. Tubuhnya terguncang ke
depan berulang-ulang setiap kali Dodot dan Aguk menghunjamkan batang
kemaluannya. Payudaranya berguncang keras persis di atas wajah Aguk yang
dengan penuh nafsu meremas sekuatnya. Masih tersiksa dengan keadaan
begitu, Bimo mengeluarkan kepunyaannya dan minta dikaraoke oleh Vera.
Rintihan Vera menjadi tersendat-sendat karena tersedak dan batuk, Bimo
bukannya kasihan malahan dia semakin terangsang sehingga dia
menghunjamkan batang kemaluannya ke mulut dan tenggorokan Vera
berulang-ulang.
Aku
tersenyum saja melihat kelakuan teman-temanku yang brutal, lalu
kudekati Vera sambil berkata, “Vera.. punggungmu masih mulus lho.. aku
cambuk ya..” Karena tidak mungkin menggunakan pecut dan ikat pinggang
sebab bisa mengenai Aguk yang berada di bawah tubuh Vera, maka aku
menggunakan rotan yang tadi sebagai pegangan untuk pecut, rotan ini
ujungnya memecah sehingga sangat cocok untuk menimbulkan rasa sakit.
Segera
kuraih rotan itu dan kupukulkan berulang-ulang ke punggung Vera. Tubuh
Vera terlihat menggelinjang dan menggeliat seiring dengan
hujaman-hujaman yang diberikan oleh Dodot, Aguk dan Bimo serta siksaan
cambukan rotan dariku. Dodot yang melihat punggung Vera terkena pukulan
rotanku sangat terangsang dan segera memuntahkan maninya ke liang dubur
Vera, lalu dia pun mencabut batang kemaluannya. Karena pantatnya kosong,
atau tidak ada orang, aku pun dengan leluasa memukul pantatnya dengan
rotan. Kulihat Vera sangat menderita, pantat yang baru saja dimasuki
paksa oleh Dodot masih harus menerima siksaan rotanku.
Giliran
Bimo yang ejakulasi, maninya langsung menyemprot ke tenggorokan Vera,
membuatnya menjadi sulit bernafas dan seperti mau muntah. Melihat begitu
semakin keras kupukulkan rotan ke pantatnya, bahkan ke belahan
pantatnya. Tiba-tiba Vera lunglai, kelihatannya dia tak tahan lagi
menerima siksaan kami, dia pingsan. Aguk yang belum selesai masih terus
melakukan aksinya, sehingga tubuh Vera yang pingsan itu
terguncang-guncang ke sana ke mari, akhirnya Aguk pun mencapai puncaknya
dan menyemprotkan air maninya di dalam liang kewanitaan Vera yang masih
pingsan. Aku sendiri sudah merasa puas dengan balas dendamku ini. Kami
berempat tertawa dan puas.
Kami
lalu membawa tubuh Vera untuk di”buang”, sebetulnya kami ingin
menyimpannya untuk kenikmatan sehari-hari tetapi terlalu beresiko.
Akhirnya tubuh Vera kami lempar di depan plaza tempat dia bekerja. Aku
tersenyum puas karena sudah memberi pelajaran kepada SPG yang sombong
itu, tapi dalam hati aku merasa ketagihan untuk menyiksa SPG yang lain,
kusampaikan ini ke teman-temanku dan mereka semuanya setuju untuk suatu
waktu menculik dan menyiksa SPG yang lain.
TAMAT
Ngentot dengan Orang Beljilbab
Nah aku mau ceritakan pengalaman waktu SMP dikerjain putri tunggal Boss-ku yang pinggulnya sangat bahenol, dengan pantat yang bulat dan buah dada yang wah.
Awal mulanya ayahku memerlukan seorang tenaga dinas luar untuk bagian pemasangan iklan, tapi karena jam kerjanya tidak terlalu panjang usulan ayahku ditolak oleh bossnya jika harus memperkejakan orang khusus untuk bagian ini. Entah ide dari mana aku yang waktu itu masih SMP kelas 2 ditarik ayah untuk mengisi bagian tersebut, dengan jam kerja pukul 13:00 sampai dengan pukul 17:00, jelas aku bisa kerjakan setelah pulang sekolah.
Hari-hari pertama bekerja aku di-training ke perwakilan resmi harian ibukota yang kesemuanya bermarkas di jalan Gajah Mada Jakarta. Semua berita harian nasional aku sudah kenal, dan dari sekian banyak biro iklan yang ke sana, hanya akulah yang paling muda (KTP saja belum punya). Setiap selesai aku diwajibkan kembali balik ke kantorku yang di daerah Kota. Boss-ku sudah cukup umur, dan kalau hitungan teliti sekali, tapi lamanya minta ampun, biasanya menunggu boss-ku menghitung, aku duduk-duduk di belakang ruangan kantor yang memang khusus tempat ngumpulnya para sales dari divisi lain. Dan di ruangan kantor depan hanya ada 4 orang, satu di antaranya adalah putri tunggal boss-ku yang menjabat sebagai direktur operasional, orangnya putih bersih, tinggi sekali mungkin 180 cm-an, waktu itu kalau berdiri aku paling sepundaknya. Selalu mengenakan span pendek dengan stoking hitam. Pinggulnya ketika berjalan hampir dipastikan seluruh orang menengoknya. Pantatnya yang bulat dan dadanya yang membusung menambah daya tariknya sebagai wanita.
Sebenarnya putri boss-ku ini pengantin baru, tapi entah kenapa malah tidak betah di rumah, kadang-kadang aku kalau lagi telat bisa sampai jam 19.00 malam dan dia masih ada di kantor. Menurut gosip yang beredar di kalangan sales (aku sering menguping). Suaminya impoten dan aku tahu bahwa pinggul, pantat dan buah dadanya bagus pun dari hasil nguping, karena waktu itu aku kurang mengerti masalah itu, yang jelas melihat paha sedikit saja, kemaluanku langsung berdiri dengan tegaknya, ditambah lagi aku sering baca buku porno, jelas hasilnya onani 3-5 kali per hari. Setiap ada kesempatan pasti aku langsung onani, kebanyakan di WC, terutama di WC kantor, pokoknya setiap ada kesempatan.
Aku sering sekali membayangkan putri boss-ku ini ketika onani, terutama kalau di WC kantor. Sebenarnya aku sih tidak bodoh-bodoh amat dalam urusan itu, perjakaku pun sudah kulepas di lokasi WTS Kali Jodoh, tapi kan tidak mungkin aku ke situ setiap hari, dari mana uangnya?Padahal buat pertarungan, aku punya modal yang cukup. Aku pernah di WC sekolah dengan teman-teman mengukur besar batang kemaluan, dan ternyata aku jadi pemenang, baik dalam panjang maupun diameternya. Alhasil aku pun dijuluki di sekolah "konde" alias "kontol gede". Nah waktu onani aku pun berkhayal begitu, aku bagai seorang pahlawan yang dapat memuaskan wanita-wanitateman onaniku dengan senjata kebanggaanku.
Tak terasa 3 bulan sudah aku bekerja, sampai pada suatu hari, karena ada iklan kolom yang jumlah uangnya besar dan pada teksnya terdapat kesalahan, aku harus menunggu sampai malam, dan sialnya hasil perbaikannya malah membuat salah jumlah giro yang aku bawa, untunglah bagian kasir masih berbaik hati dan menukarkannya dengan tanda terima sementara. Pukul 19:30 aku sampai di kantor, lampu sudah dimatikan semua, hanya pos satpam dan ruangan putri boss-ku saja yang masih menyala, aku langsung ke ruangannya.
"Selamat malam Bu," sapaku sopan.
"Malam, baru selesai Big?"
"Yah Bu, tadi ada kesalahan, jadi harus menunggu."
"Oh…"
"Sekarang saya mau hitungan dengan siapa, Bu?" tanyaku.
"Oh ya Mama sudah pulang, sini saya yang hitung!"
Aku meyerahkan semua bon kepadanya.
"Saya tunggu di luar, Bu," aku pamitan.
"Silakan," jawabnya singkat.
Aku menuju kantor belakang, ternyata tak ada seorangpun di sana, mungkin sudah terlalu malam. Aku segera ke kamar mandi dan mengkhayalkan making love dengan putri boss-ku. Seiring dengan khayalanku yang semakin indah aku mulai melepas celanaku lalu mulai mengocok-ngocok batanganku dengan perlahan, busa sabun yang melumuri batanganku terasa nikmat sekali, gerakankusemakin cepat, dan mencoba mencapai puncak kenikmatan secepatnya. Tapi karena hari ini aku sudah 4 kali mengocok, di WC sekolah, WC rumah dan terakhir di WC kantor 2 kali, aku agak susah keluar, aku lihat kepala batanganku sampai memerah, tapi tiba-tiba saja, "Brakkk…" pintu terbuka dan menyembullah wajah yang ada dalam khayalanku, aku kaget setengah mati, begitu puladia sampai berteriak. Aku segera mencari celanaku, tapi sialnya karena pintu terbuka jelas aku tidak bisa mengambil celanaku yang berada di balik pintu kamar mandi.
"Maaf, Bu, saya lupa mengunci pintu," aku segera minta maaf tanpa menghiraukan batanganku yang masih ereksi, "Eh.. tidak apa," boss-ku pun agak gugup dan kulihat pandangan matanya tertuju pada batanganku yang masih mengacung menunjuk langit-langit, dan tanpa disangka-sangka dia langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, "Ehh, Ibu mau ngapain?" aku masih kebingungan atas sikapnya. "Kamu tenang aja yah Big," kata boss-ku.
Dia langsung menanggalkan seluruh pakaiannya dan telanjang bulat di depanku, aku pun mulai menyadari keinginannya, tapi aku masih takut karena dia adalah boss-ku, untunglah dia dulu yang mulai. Aku yang masih mengenakan baju langsung dilepaskannya, dan boss-ku langsung dengan liarnya menciumi seluruh tubuhku, tangannya langsung saja menggenggam batanganku dan menarik-nariknya dengan keras. Sungguh nikmatnya luar biasa. "Big, kontol kamu gede, bikin Ibu puas yah!" aku pun tak bisa tinggal diam, seluruh imajinasiku yang kudapat dari buku stensilan kupraktekan. Aku mulai melumat bibir boss-ku sambil tanganku bermain di keduapayudaranya yang membusung padat. Putingnya yang kecil dan kemerahan aku pilin-pilin, kadang aku usap perlahan. Bibir dan lidahku terus menjalar menelusuri leher dan melumat buah dadanya, boss-ku hanya mengerang pelan. Rejeki ini benar-benar aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk memuaskan imajinasiku, seluruh bagian tubuh boss-ku tak ada yang luput dari jilatanku, mulai dari jari tangan, leher, buah dada, perut, pinggul, pantat, liang kemaluannya yang lebat sampai paha dan jari kakinya kujilat dan kucium.
Dan saat lidahku bermain di liang kemaluannya dia mengangkat sebelah kakinya ke bathup, dengan begitu aku semakin leluasa menyedot klitorisnya dan memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya, boss-ku meremas-remas rambutku semakin kuat, sambil terus menjilat kedua tanganku, meremas dan memilin kedua puting buah dadanya, "Achhh, Bigg…" rambutku terasa mau tertarik dari akarnya saat boss-ku melepas orgasmenya yang pertama. Aku tak begitu perduli, aku terus menciumi seluruh bagian tubuhnya, dan saat aku menciumi punggungnya, senjataku terasa nikmat terganjal di antara belahan pantatnya yang besar, tapi mungkin boss-ku sudah naiklagi nafsunya. Dibimbingnya senjataku dari belakang, "Dorong, Big!" aku langsung memajukan pingggulku dan senjataku terasa memasuki lorong hangat yang sempit, "Achhh, enak Big, terus yang dalam!" boss-ku makin meracau, sementara aku sendiripun merasakan nikmat yang luarbiasa, jepitan liang kemaluannya terasa sekali meremas batang kemaluanku.
Perlahan aku gerakkan pinggulku maju-mundur, sementara tanganku tak tinggal diam meremas danmemilin buah dadanya, kian lama gerakanku semakin cepat. Seluruh urat syarafku terasa agak kaku dan aliran darahku semakin cepat. Aku mencoba mengeluarkan spermaku secepatnya, tapi mungkin akibat terlalu banyak onani aku malah susah keluar, sanpai boss-ku orgasme 8 kali dan mengalami berbagai macam gaya barulah aku mulai merasakan spermaku sudah terasa di ujung batanganku,
"Bu.. saya mau keluar…"
"Sebentar, Big, tahan!"
Dia lalu menggerakan pinggulnya ke depan sehingga batanganku tercopot, dia langsung mengocok batang kemaluanku dengan tangannya yang halus, sementara bibir dan lidahnya menggelitik ujung dadaku dengan rakusnya. Nafasku bagai terhenti saat dengan kuatnya dia melumat ujung dadaku dan mempercepat kocokan tangannya di batang kemaluanku. Akhirnya seluruh tubuhku bagai merindingdan bergetar saat spermaku terpancar dengan beberapa kali denyutan-denyutan kenikmatan di seluruh batang kemaluanku.
Kulihat boss-ku tersenyum puas, "Big, kamu termasuk hebat dalam urusan ini, besok-besok temanin Ibu lagi, yah!" aku hanya mengangguk, dan tanpa banyak kata-kata lagi boss-ku langsung mengenakan pakaiannya kembali dan meninggalkanku sendirian di kamar mandi. Entah mimpi apa aku semalam dapat bercinta dengan boss-ku, yang jelas sejak saat itu aku jadi tidak kekurangan uang. Sayang sekarang dia sudah keluar negeri mengikuti suaminya, kalau tidak pasti masihberlanjut sampai sekarang.
Langganan:
Postingan (Atom)



















